Ketersediaan LPG 3 kilogram (kg) atau yang dikenal sebagai gas melon masih menjadi persoalan di sejumlah wilayah Kabupaten Blitar. Warga mengaku kesulitan mendapatkan gas bersubsidi tersebut untuk memenuhi kebutuhan memasak sehari-hari.

Di beberapa desa, pasokan LPG 3 kg belum kembali normal. Akibatnya, masyarakat harus mencari ke wilayah lain meski kondisinya tidak jauh berbeda, sama-sama terbatas dan harus antre.

Di Desa Jaten, Kecamatan Wonodadi, misalnya, warga menyebut kelangkaan sudah berlangsung beberapa waktu terakhir. Lestari, salah satu warga, mengatakan hingga kini situasinya belum menunjukkan perubahan berarti.

Baca juga:  Unik! Para Janda dan Lansia ‘Nyantri’ di Pondok Ramadhan di Blitar

“Cari gas masih susah. Kalau pun ada, harus ke desa sebelah dan tetap antre,” ujarnya.

Kondisi serupa juga terjadi di Desa Pakisrejo, Kecamatan Srengat. Ketersediaan LPG 3 kg di wilayah tersebut disebut sangat terbatas. Warga yang beruntung menemukan stok harus rela mengantre untuk mendapatkannya.

“Gas di sini sulit dicari. Kalau ada yang jual juga harus antre. Harganya sekitar Rp 21 ribu,” tutur Izzah, warga setempat.

Kelangkaan gas bersubsidi juga dirasakan masyarakat Desa Bacem, Kecamatan Ponggok. Sejumlah warga mengaku kesulitan memperoleh LPG 3 kg sejak beberapa pekan terakhir. Situasi ini memaksa mereka lebih hemat dalam penggunaan gas.

Baca juga:  Rijanto-Beky Unggul di LSI Denny JA, Berikut Tanggapan Tim Rini-Ghoni

“Sekarang masih susah dapat gas. Kemarin-kemarin juga begitu,” kata Mubarok.

Berbeda dengan beberapa wilayah tersebut, kondisi di Kecamatan Udanawu relatif lebih stabil. Di sejumlah toko kelontong, LPG 3 kg masih tersedia.

“Di sini cari gas masih gampang. Tapi tidak tahu ya kalau tempat lain sulit,” ungkap Mesiyah, warga Desa Karanggondang, Kecamatan Udanawu.

Perbedaan kondisi antarwilayah ini menunjukkan distribusi LPG 3 kg di Kabupaten Blitar belum merata. Warga berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait segera mengambil langkah konkret untuk menormalkan pasokan gas bersubsidi.

Baca juga:  Isu Kenaikan PBB 300 Persen di Blitar Dibantah, Bapenda Pastikan Hanya Naik 1,48 Persen

Masyarakat menilai stabilitas distribusi sangat penting agar kebutuhan dasar rumah tangga dapat terpenuhi tanpa harus menghadapi antrean panjang maupun harga yang melampaui ketentuan.

Dengan pasokan yang kembali lancar, aktivitas memasak sehari-hari diharapkan dapat berjalan normal kembali tanpa kekhawatiran akan kelangkaan. (HEV/YUN)

Iklan