Sebanyak 26 remaja ABG yang terlibat perang sarung atau tawuran di wilayah Srengat, Kabupaten Blitar baru-baru ini dimasukkan ke pondok pesantren. Mereka semua diwajibkan mengikuti program pesantren kilat selama bulan Ramadan.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar bersama dengan Polres Blitar Kota sengaja membuat program pesantren kilat ini sebagai terobosan guna mengatasi fenomena perang sarung yang terjadi.

“Kegiatan (pesantren kilat) ini sebagai upaya pembinaan sekaligus menambah pengetahuan di bulan Ramadan,” kata Kapolres Blitar Kota AKBP Argowiyono kepada wartawan.

Baca juga:  3 Penyulang PLN di Blitar Rusak Akibat Angin Kencang, Blitar Raya Alami Pemadaman Listrik

Perang sarung secara mendadak tiba-tiba menjadi fenomena di mana-mana. Di wilayah Kecamatan Srengat belum lama ini, sebanyak 26 remaja bersiap melakukan perang sarung. Apesnya, persiapan perang itu sudah tercium oleh aparat kepolisian. Para remaja itu pun akhirnya digelandang ke Mapolsek Srengat.

Sarung yang bentuknya sudah diubah menjadi lilitan turut disita. Sarung-sarung yang akan digunakan untuk berperang ternyata berisi besi, termasuk klaker sepeda motor. Jika terkena sabetannya, jelas bisa berakibat fatal.

Argowiyono mengatakan, pemberlakuan program pesantren kilat kepada remaja yang terlibat perang sarung ini merupakan kesepakatan bersama. Dari 26 remaja yang wajib mondok kilat, 7 di antaranya menjadi santri di pondok pesantren Bustanul Mutaalimin pimpinan Gus Luby, Kota Blitar.

Baca juga:  Rekrut 2.115 PPPK Tahun Ini, Pemkab Blitar Sebut Kuota Guru Terbanyak

Sementara 19 remaja lainnya, nyantri di pondok pesantren yang dekat dengan lingkungan tempat tinggal mereka. “Untuk saat ini, kita masih melakukan pendataan ulang,” jelasnya.

Argowiyono pun menambahkan, selama bulan Ramadan ini, patroli kamtibmas akan lebih dimaksimalkan. Fokus utama dari patroli ini bertujuan mencegah terjadinya aksi perang sarung, petasan dan balap liar yang marak dilakukan oleh para remaja.

Hal serupa turut disampaikan Bupati Blitar, Rini Syarifah atau Mak Rini. Dengan adanya program pesantren kilat untuk remaja pelaku perang sarung ini, diharapkan mampu mengubah karakter mereka agar menjadi lebih baik. Mak Rini mengatakan, karena yang utama dalam program ini adalah pendidikan akhlak.

Baca juga:  Tercatat Sebagai Penerima, Warga Blitar Mengaku 6 Tahun Tak Dapat BPNT

Editor: Luthfia Azarin

Iklan