Waspada Malaria! Empat Kelurahan di Kota Blitar Terindikasi
Meskipun Kota Blitar telah dinyatakan sebagai daerah bebas malaria, kewaspadaan terhadap potensi penyebaran penyakit ini tetap menjadi perhatian utama. Baru-baru ini, Puskesmas Sananwetan mencatat adanya temuan larva nyamuk malaria di empat kelurahan.
Penemuan tersebut terjadi dalam kegiatan survei rutin yang dilaksanakan pada 16–17 Juli lalu. Kepala Puskesmas Sananwetan, Siti Julaikah, menyampaikan bahwa temuan ini merupakan langkah awal yang penting dalam pencegahan agar kasus malaria tidak kembali terjadi.
“Identifikasi data melalui survei ini sangat penting dan kami laksanakan setiap bulan,” jelasnya pada Minggu (20/7/2025). Ia juga menegaskan bahwa meskipun Kota Blitar telah bebas dari malaria, tetap ada potensi penyebaran yang berasal dari para pendatang.
Survei tersebut mencakup tujuh kelurahan dan difokuskan pada titik-titik rawan seperti genangan air serta lokasi yang kurang terpantau. Hasilnya, larva nyamuk malaria ditemukan di Kelurahan Karangtengah, Klampok, Sananwetan, dan Gedog.
Kendati demikian, hingga kini belum ada warga yang dinyatakan positif terinfeksi malaria. “Kalau larva ditemukan, tentu harus segera ditindaklanjuti. Hal ini untuk mencegah berkembangnya menjadi kasus malaria,” ujar Siti.
Ia juga mengungkapkan bahwa tahun lalu, Kelurahan Karangtengah dan Bendogerit sempat mengalami kasus malaria, meski tergolong kasus impor karena pasien tertular dari luar daerah. Lokasi kompleks TNI Yonif 511 disebut sebagai salah satu titik yang sering ditemukan larva.
“Rata-rata penemuan larva terjadi di lokasi dengan mobilitas penduduk dari luar yang tinggi, seperti di sekitar kompleks TNI Yonif 511. Mungkin karena sering bertugas ke daerah endemis malaria seperti Papua dan wilayah lainnya,” ungkapnya.
Sebagai bagian dari langkah pencegahan, Puskesmas Sananwetan akan bekerja sama dengan pihak kelurahan dan kecamatan untuk penanganan lanjutan. Salah satu bentuk nyata pencegahan adalah dengan membagikan abate secara rutin kepada masyarakat.
“Upaya kami termasuk menggandeng kelurahan, kecamatan, dan pembagian abate sebagai obat pembunuh jentik nyamuk. Ini penting untuk membasmi larva sejak dini,” jelas Siti.
Ia menegaskan bahwa pengobatan malaria tidak bisa dilakukan sembarangan karena memerlukan penanganan khusus. Oleh karena itu, langkah preventif menjadi prioritas utama.
“Malaria tidak bisa ditangani sembarangan, maka pencegahan dan antisipasi adalah yang paling penting,” tandasnya. (HEV/YUN)



