Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa di tahun 2025 ini, jumlah warga miskin di Kota Blitar masih mencapai 9.690 jiwa. Angka tersebut setara dengan 6,60 persen dari total penduduk di kota yang dikenal sebagai Bumi Bung Karno. Kategori miskin yang ditetapkan BPS merujuk pada pendapatan per kapita di bawah Rp625 ribu setiap bulannya.
Hanung Pramusito selaku Kepala BPS Kota Blitar menuturkan bahwa garis kemiskinan di Kota Blitar untuk tahun 2025 naik menjadi Rp625.337 per kapita per bulan sehingga dapat dipahami sebagai jumlah minimum pengeluaran per orang dalam satu bulan.
Jika dibandingkan dengan kondisi tahun sebelumnya, angka kemiskinan ini sebenarnya mengalami perbaikan. Pada tahun 2024, persentase warga miskin di Kota Blitar mencapai 6,75 persen, sedangkan pada 2025 menurun menjadi 6,60 persen atau ada penurunan sekitar 0,15 persen.
Meski demikian, posisi Kota Blitar tetap berada di peringkat paling bawah terkait kemiskinan di Jawa Timur. Saat ini Kota Blitar menduduki urutan kesembilan atau terakhir dengan persentase 6,60 persen.
Kondisi ini lebih tinggi dibandingkan Kota Kediri yang ada di posisi kedelapan dengan angka 6,51 persen, serta jauh tertinggal dari Kota Malang yang menempati posisi kedua terendah kemiskinan dengan persentase hanya 3,91 persen.
Hanung menekankan bahwa kemiskinan yang dihitung BPS adalah kemiskinan makro berdasarkan garis kemiskinan. “Yang dihitung bukan kemiskinan ekstrem secara khusus, melainkan kemiskinan makro yang ditentukan melalui garis pengeluaran minimum,” tambahnya.
Walaupun masih menempati posisi buncit, penurunan kemiskinan di Blitar ini tetap memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah. Pada triwulan pertama 2025, pertumbuhan ekonomi Blitar tercatat sebesar 4,02 persen, sedangkan pertumbuhan secara tahunan (year on year) mencapai 4,96 persen.
Syauqul Muhibbin selaku Wali Kota Blitar menyambut baik laporan tersebut. Ia menyebutkan bahwa keberhasilan menurunkan angka kemiskinan meski tipis tidak terlepas dari program-program pemerintah daerah.
“Saya merasa bersyukur dan bangga karena tahun ini kemiskinan bisa berkurang meskipun hanya sebesar 0,15 persen dibandingkan tahun lalu,” ucapnya. Menurut Syauqul Muhibbin, sejumlah kebijakan seperti bantuan sembako, pembukaan lapangan kerja baru, hingga pelatihan keterampilan bagi masyarakat pencari kerja menjadi faktor penting dalam pencapaian ini.
Penurunan ini juga menjadi catatan awal yang baik bagi Syauqul Muhibbin, mengingat ia baru saja mulai menjabat sebagai wali kota pada tahun 2025. “Pemkot Blitar akan terus berkomitmen melaksanakan program-program pengentasan kemiskinan demi meningkatnya kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Dengan berbagai upaya yang dijalankan, diharapkan Blitar bisa bergerak menuju kondisi ekonomi yang lebih sejahtera di tahun-tahun berikutnya. (IND/SAN)




