Kasus GERD di Blitar Meningkat, Didominasi Perempuan Usia Produktif

Penderita GERD di Kabupaten Blitar Didominasi Perempuan Usia Produktif (Sumber gambar: blitarkawentar.jawapos.com)

Pola gangguan kesehatan di masyarakat kini mengalami perubahan. Salah satunya terlihat dari meningkatnya kasus Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) atau penyakit asam lambung kronis yang banyak ditemukan di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, Kabupaten Blitar.

Fenomena ini cukup menarik perhatian karena tidak lagi didominasi oleh kelompok lanjut usia. Justru, kasus GERD kini lebih sering dialami oleh masyarakat usia produktif, terutama perempuan.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, dr. Etha Dini Widiasi, menyampaikan bahwa keluhan terkait lambung saat ini menjadi salah satu kasus yang rutin ditemui di layanan poliklinik.

Bahkan, sejumlah pasien harus mendapatkan penanganan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) akibat serangan yang datang tiba-tiba dengan kondisi cukup berat.

Baca juga:  Keterbatasan Anggaran Tak Halangi Suksesnya Festival Kresnayana 2025

Menurut dr. Etha, banyak pasien datang dengan keluhan asam lambung naik yang disertai pusing hebat. Mayoritas pasien berada pada rentang usia 20 hingga 40 tahun, dengan dominasi perempuan di usia produktif.

Dari hasil pengamatan medis, dr. Etha menilai ada faktor psikologis yang sering luput dari perhatian masyarakat, yakni kebiasaan overthinking. Tingkat stres dan kecemasan yang tinggi memiliki kaitan erat dengan peningkatan produksi asam lambung.

Ia menambahkan, kondisi seperti stres, kurang tidur, hingga kebiasaan begadang sangat berpengaruh terhadap kesehatan lambung. Biasanya, kondisi tersebut juga diikuti dengan pola makan yang tidak teratur.

Tekanan pekerjaan, tuntutan akademik pada mahasiswa, serta kekhawatiran terhadap masa depan diduga menjadi pemicu utama meningkatnya kasus GERD pada kelompok usia muda.

Selain faktor psikologis, GERD juga dipengaruhi oleh berbagai kebiasaan sehari-hari. Beberapa di antaranya adalah sering melewatkan sarapan lalu makan berlebihan di siang hari, hingga kebiasaan makan menjelang tidur atau mengonsumsi camilan tengah malam yang membuat lambung tetap bekerja saat tubuh seharusnya beristirahat.

Faktor lain yang turut berperan adalah obesitas atau kelebihan berat badan yang meningkatkan tekanan di area perut, kebiasaan merokok, serta konsumsi kafein berlebih yang dapat melemahkan katup kerongkongan bagian bawah.

Untuk menekan angka kasus GERD di wilayah Blitar, pihak RSUD Ngudi Waluyo mengimbau masyarakat agar mulai menerapkan pola hidup sehat secara konsisten. Pencegahan GERD tidak hanya berkaitan dengan pola makan, tetapi juga mencakup pengelolaan stres dan kualitas istirahat.

Baca juga:  Pemerintah Pusat Tangguhkan Usulan Perbaikan Empat Ruas Jalan di Blitar Selatan

Dr. Etha menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pola makan teratur, waktu tidur yang cukup, serta kemampuan mengelola stres agar penyakit ini tidak mudah kambuh.

Masyarakat yang kerap mengalami gejala seperti nyeri di ulu hati, sensasi panas di dada (heartburn), hingga pusing berulang disarankan segera memeriksakan diri ke tenaga medis. Langkah ini penting untuk mencegah kondisi berkembang menjadi komplikasi yang lebih serius. (HEV/YUN)

Iklan