Rupiah Diprediksi Masih Melemah Usai Lebaran, Ini Penyebabnya
Pada perdagangan Selasa (17/3), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sempat menguat tipis sebesar 25 poin. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama dan rupiah kembali melemah hingga ditutup di level Rp16.997 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan, pergerakan rupiah yang cenderung stagnan menjelang libur panjang Idulfitri dipicu oleh gangguan logistik di Selat Hormuz. Kondisi ini berdampak pada lonjakan harga minyak dunia, di mana minyak Brent tercatat naik 33 persen dan harga minyak mentah global meningkat hingga 37 persen.
Di sisi lain, pelaku pasar masih menanti hasil pertemuan bank sentral Amerika Serikat. The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen pada bulan ini.
Menurut Ibrahim, perhatian pasar saat ini tertuju pada arah kebijakan bank sentral AS, terutama dalam merespons tekanan terhadap perekonomian Amerika Serikat akibat kenaikan harga minyak.
Sementara dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati langkah pemerintah dalam mengendalikan defisit anggaran. Pemerintah disebut tetap berupaya menjaga defisit agar tidak melampaui batas 3 persen.
Upaya tersebut dilakukan dengan memangkas pengeluaran yang dianggap tidak prioritas, termasuk anggaran untuk MBG. Selain itu, Bank Indonesia juga memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75 persen.
Ibrahim menilai, keputusan BI menahan suku bunga tinggi dipengaruhi oleh ketidakpastian global yang dipicu konflik di Timur Tengah serta lonjakan harga minyak dunia.
Kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mengendalikan inflasi, serta tetap mendorong pertumbuhan ekonomi.
Ke depan, Ibrahim memproyeksikan pergerakan rupiah akan tetap fluktuatif selama periode libur panjang Lebaran. Ia juga memperkirakan Bank Indonesia akan melakukan intervensi pasar, khususnya di pasar luar negeri melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF).
Lebih lanjut, ia tidak menutup kemungkinan terjadinya konflik darat antara militer AS dan Iran, yang berpotensi memperdalam tekanan terhadap rupiah.
Setelah libur panjang yang dimulai pada 24 Maret mendatang, rupiah diperkirakan masih berada dalam tren pelemahan dengan kisaran pergerakan antara Rp16.990 hingga Rp17.075 per dolar AS. (HEV/YUN)



