Luas Tanam Padi di Kabupaten Blitar Tembus 56 Ribu Hektare, Perkuat Posisi Penyangga Beras Jatim
Capaian luas tanam padi di Kabupaten Blitar atau Bumi Penataran tercatat mengalami peningkatan signifikan hingga mencapai 56 ribu hektare sampai November 2025.
Jumlah tersebut melonjak tajam dibandingkan capaian pada tahun sebelumnya yang hanya berada di kisaran 42 ribu hektare.
Kondisi ini menegaskan peran Kabupaten Blitar yang semakin kokoh sebagai salah satu daerah penyangga beras utama di Provinsi Jawa Timur.
Kepala Bidang Sarana Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Blitar, Siswoyo Adi Prasetyo, menyampaikan bahwa kenaikan tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat yang saat ini tengah mendorong target surplus beras nasional.
“Pemerintah memang sedang fokus mengejar surplus beras, dan Kabupaten Blitar menjadi salah satu daerah penyangga. Hingga tahun ini, luas tanam padi sudah mencapai 56 ribu hektare, jelas jauh meningkat dibandingkan tahun lalu,” ujarnya.
Siswoyo menambahkan, peningkatan luas tanam padi harus diimbangi dengan perhatian serius terhadap hasil panen petani, khususnya menjelang masa panen raya.
Apalagi, pada musim tanam ketiga tahun ini, antusiasme petani untuk menanam padi tergolong sangat tinggi. Dengan bertambahnya luas tanam, pemerintah perlu menyiapkan langkah lanjutan setelah panen berlangsung.
Sebagai bentuk perlindungan bagi petani, pemerintah telah menetapkan harga pembelian pemerintah (HPP) atau harga dasar gabah sebesar Rp 6.500 per kilogram.
Namun demikian, harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani saat ini justru berada di atas ketentuan tersebut.
“Harga gabah kering sawah sekarang sudah di kisaran Rp 7.200 sampai Rp 7.400 per kilogram, tergantung kualitasnya. Ini tentu menjadi kabar baik bagi petani, meski tetap perlu diantisipasi saat panen raya,” jelasnya.
Untuk menjaga kestabilan harga, DKPP Kabupaten Blitar telah melakukan koordinasi dengan Bulog. Ke depan, penyerapan gabah petani melalui program serapan gabah (sergap) akan kembali dioptimalkan.
Terkait faktor pendorong meningkatnya luas tanam padi, Siswoyo menjelaskan bahwa hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya program nasional luas tambah tanam (LTT) padi yang memberikan berbagai bentuk fasilitasi kepada petani.
Fasilitas tersebut meliputi bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) serta benih, yang sangat membantu petani maupun kelompok tani.
Di Kabupaten Blitar, potensi produksi padi terbesar berada di empat kecamatan, yakni Talun, Kanigoro, Selopuro, dan Kesamben. Keempat wilayah tersebut memiliki intensitas tanam hingga indeks pertanaman (IP) 3, sementara kecamatan lainnya umumnya masih berada pada IP 1 hingga IP 2.
Selain itu, kondisi kemarau basah juga dinilai sangat mendukung pertanaman padi. Berdasarkan informasi dari BMKG, kondisi cuaca tersebut mendorong petani untuk lebih memilih menanam padi dibandingkan komoditas lain seperti jagung.
“Biasanya saat kemarau petani banyak yang menanam jagung, tetapi karena kemarau basah sekarang justru lebih banyak yang menanam padi. Itu yang membuat capaian luas tanam tahun ini meningkat luar biasa,” pungkasnya. (HEV/YUN)



