Kotoran Burung Kuntul di Alun-Alun Blitar Bikin Resah, Pemkot Blitar Ambil Langkah Sederhana
Keberadaan ratusan burung kuntul atau blekok yang sering hinggap di pohon beringin di Alun-Alun Kota Blitar kini mulai menjadi perhatian Pemerintah Kota Blitar. Pasalnya, kotoran burung tersebut kerap mengotori area jogging hingga berbagai fasilitas umum di pusat kota.
Keluhan terkait kondisi ini disampaikan langsung oleh Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin. Ia mengakui banyak masyarakat merasa terganggu dengan kebersihan alun-alun yang menurun akibat kotoran burung.
Menurutnya, keluhan tersebut sangat wajar mengingat alun-alun merupakan tempat favorit warga untuk berolahraga maupun bersantai. Namun, keberadaan kotoran burung yang menempel di berbagai area membuat kenyamanan berkurang.
Ia menjelaskan bahwa fenomena burung kuntul atau blekok yang menempati pohon beringin di alun-alun sebenarnya sudah berlangsung lama, bahkan hingga puluhan tahun.
Burung-burung tersebut menjadikan pohon sebagai tempat beristirahat dan bersarang saat malam hari, sementara pada siang hari mereka terbang ke berbagai wilayah untuk mencari makan.
Permasalahan muncul ketika burung-burung itu bertengger di pohon. Kotoran yang mereka keluarkan sering jatuh ke berbagai fasilitas di bawahnya, seperti jalur jogging, kendaraan, kanopi, hingga tempat duduk.
Wali Kota juga menyebut keberadaan burung berparuh panjang tersebut memiliki sisi positif dan negatif.
Dari sisi positif, keberadaan mereka menjadi indikator bahwa kondisi lingkungan dan cuaca di Kota Blitar masih terjaga dengan baik, sehingga mendukung habitat alami burung untuk berkembang biak.
Namun di sisi lain, kotoran yang dihasilkan cukup mengganggu aktivitas masyarakat. Ia menegaskan bahwa upaya untuk mengusir atau membasmi burung secara total tidak memungkinkan karena bertentangan dengan aturan yang berlaku. Oleh karena itu, langkah yang diambil lebih kepada pengendalian.
Sebagai solusi sementara, Pemkot Blitar memasang alat sederhana untuk mengusir burung dari pohon. Metode yang digunakan pun tergolong tradisional, yaitu dengan memanfaatkan kaleng yang diisi batu atau besi dan digantung menggunakan tali.
Saat burung berkumpul dalam jumlah banyak, tali tersebut akan ditarik sehingga menimbulkan suara keras dari kaleng. Suara itu membuat burung terkejut dan terbang menjauh untuk sementara waktu.
Cara ini dinilai cukup efektif sebagai langkah pengendalian tanpa melukai hewan. Kaleng-kaleng tersebut dipasang di beberapa titik pohon yang sering menjadi tempat berkumpulnya burung.
Penggunaan alat ini biasanya dilakukan pada waktu tertentu, terutama ketika banyak warga beraktivitas di bawah pohon. Dengan demikian, burung dapat diusir sementara sehingga area di bawahnya tetap nyaman digunakan masyarakat. (HEV/YUN)



