Damkar Blitar Catat Puluhan Evakuasi Ular Selama 2025, Mayoritas di Lingkungan Rumah

Tim Damkar Blitar Melakukan Evakuasi Ular di Rumah Warga (Sumber gambar: blitarkawentar.jawapos.com)

Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Blitar mencatat adanya peningkatan laporan penemuan ular di kawasan permukiman warga sepanjang tahun 2025 ini.

Dalam kurun Januari hingga Oktober 2025, unit pemadaman dan penyelamatan telah menangani sebanyak 65 kejadian evakuasi ular, mulai dari jenis kobra hingga piton. Mayoritas ular tersebut ditemukan di area sekitar rumah warga, seperti halaman, dapur, serta tumpukan barang yang kondisinya lembap.

Kondisi ini menjadi sorotan masyarakat setelah beberapa kali kemunculan ular menimbulkan kepanikan di lingkungan permukiman.

Kasi Pemadaman, Penyelamat, dan Sarana Prasarana Satpol PP dan Damkar Kabupaten Blitar, Tedi Prasojo, menjelaskan bahwa laporan yang masuk sepanjang 2025 menunjukkan kecenderungan yang berulang setiap kali terjadi pergantian musim.

Baca juga:  Semarak Ramadhan, RS Islam Aminah Blitar Gelar Lomba MTQ

“Memasuki musim hujan, telur ular mulai menetas. Mereka akan mencari lokasi yang lebih hangat atau kering, sehingga sering berpindah ke pekarangan rumah, tumpukan kayu, bahkan pakaian yang diletakkan di lantai,” jelasnya.

Berdasarkan data bulanan, jumlah laporan menunjukkan fluktuasi yang cukup dinamis. Pada Januari tercatat 4 kejadian, Februari 8 kejadian, sedangkan Maret dan April masing-masing mencatat 9 kejadian.

Bulan Mei menjadi satu-satunya periode tanpa laporan evakuasi ular. Namun, pada Juni angka kembali meningkat dengan 11 penanganan. Selanjutnya, Juli mencatat 7 kejadian, Agustus 4 kejadian, September 8 kejadian, dan Oktober 5 kejadian.

Secara total, selama sepuluh bulan pertama tahun 2025, jumlah penanganan evakuasi ular mencapai 65 kasus.

Tedi menyebutkan, jenis ular yang paling banyak dievakuasi adalah kobra dan piton. Meski memiliki karakter yang berbeda, kedua jenis ular tersebut sama-sama berpotensi membahayakan keselamatan warga apabila tidak ditangani secara tepat.

Ia menjelaskan, kobra cenderung berada di lokasi yang hangat dan lembap, sementara piton kerap masuk ke lingkungan rumah untuk mencari mangsa seperti ayam atau tikus.

“Jika di suatu lokasi banyak tikus, maka peluang kedatangan ular juga semakin besar,” ujarnya.

Lebih lanjut, Tedi mengimbau masyarakat agar memahami langkah yang tepat saat menghadapi kemunculan ular, guna menghindari risiko yang lebih besar.

Untuk penemuan kobra, warga diminta tetap menjaga jarak, menggunakan alat bantu jika ingin mengusir, serta tidak mendekati area semburan bisanya.

Baca juga:  Pemkot Blitar Serius Hidupkan Pasar Legi, Anggarkan Rp 1 Miliar untuk Penataan

Sementara itu, untuk ular piton, warga diingatkan agar tidak panik dan tidak mencoba menangkapnya sendiri.

“Jika piton sudah melilit, penanganannya harus dilakukan oleh lebih dari satu orang dan dimulai dari bagian ujung ekor,” jelasnya.

Ia berharap masyarakat segera menghubungi petugas damkar apabila menemukan ular di sekitar tempat tinggal.

Seiring masih adanya laporan yang terus bermunculan, damkar juga mengimbau warga untuk menjaga kebersihan lingkungan, mengurangi tumpukan barang, serta rutin mengawasi area lembap yang berpotensi menjadi tempat persembunyian ular.

“Jangan mengambil risiko. Kami siap membantu kapan saja demi keselamatan bersama,” pungkas Tedi. (HEV/YUN)

Iklan