Angka Kanker Usus di Kabupaten Blitar Bertambah, Deteksi Dini Diperkuat
Angka kasus penyakit tidak menular, khususnya kanker usus, di Kabupaten Blitar menunjukkan tren peningkatan dalam dua tahun terakhir.
Kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah, mengingat sebagian besar penderita berasal dari kelompok usia lanjut yang memiliki risiko komplikasi lebih tinggi apabila penanganan terlambat dilakukan.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar, pada tahun 2024 tercatat sembilan kasus kanker usus. Jumlah tersebut meningkat pada 2025 menjadi sebelas kasus. Meski kenaikannya tidak tergolong signifikan, tren yang terus bertambah ini dinilai perlu diwaspadai.
Kepala Dinkes Kabupaten Blitar, dr. Christine Indrawati, mengungkapkan bahwa mayoritas pasien yang terdiagnosis berada pada rentang usia di atas 50 tahun. Kelompok usia ini dinilai lebih rentan karena kondisi fisik yang mulai menurun serta potensi penyakit penyerta.
“Sebagian besar pasien kanker usus yang terdeteksi memang berusia di atas 50 tahun. Kelompok ini perlu mendapatkan perhatian lebih, terutama dalam hal pemeriksaan kesehatan rutin,” ujarnya.
Menurutnya, peningkatan jumlah kasus tidak sepenuhnya mencerminkan memburuknya kondisi kesehatan masyarakat. Ia menilai, bertambahnya angka tersebut juga dipengaruhi oleh semakin optimalnya pelaksanaan program deteksi dini yang digencarkan pemerintah daerah.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di fasilitas layanan kesehatan tingkat pertama, seperti puskesmas. Melalui skrining yang lebih luas dan terstruktur, masyarakat dengan faktor risiko dapat teridentifikasi lebih cepat.
“Kanker usus pada tahap awal sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas. Dengan skrining yang lebih masif, potensi kasus bisa ditemukan lebih dini sehingga peluang penanganan menjadi lebih baik,” jelas dr. Christine.
Dinkes Kabupaten Blitar juga terus memperkuat sistem rujukan bagi pasien yang menunjukkan gejala mengarah pada keganasan. Pasien akan segera dirujuk ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan lanjutan, mulai dari tes laboratorium, ultrasonografi (USG), hingga pemeriksaan patologi anatomi guna memastikan diagnosis secara akurat.
Selain penanganan medis, upaya pencegahan berbasis kesadaran masyarakat juga menjadi fokus utama. Dinkes mengimbau warga, terutama yang berusia di atas 50 tahun, agar lebih memperhatikan pola hidup sehat.
Masyarakat dianjurkan untuk meningkatkan konsumsi makanan berserat, membatasi asupan makanan olahan, serta rutin melakukan pemeriksaan kesehatan. Langkah tersebut dinilai efektif untuk menekan risiko kanker usus di masa mendatang.
“Pola hidup sehat dan pemeriksaan berkala adalah kunci utama pencegahan. Semakin dini terdeteksi, semakin besar peluang untuk ditangani dengan baik,” pungkasnya. (HEV/YUN)



