Peristiwa kebakaran di Kabupaten Blitar sepanjang tahun 2025 masih menjadi perhatian serius. Berdasarkan catatan resmi dari Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Blitar, jumlah kejadian kebakaran hingga akhir Desember 2025 terbilang cukup tinggi dan didominasi oleh faktor kelalaian manusia atau human error. Total terdapat 44 insiden kebakaran yang terjadi di berbagai wilayah selama tahun berjalan.

Tedi Prasojo selaku Kepala Seksi Pemadaman, Penyelamatan, serta Sarana dan Prasarana Satpol PP dan Damkar Kabupaten Blitar mengungkapkan bahwa sebagian besar kebakaran berawal dari aktivitas sehari-hari masyarakat yang kurang memperhatikan aspek keselamatan. Menurutnya, banyak kasus muncul akibat kesalahan sederhana yang sebenarnya dapat dihindari.

“Sebagian besar kebakaran yang kami tangani bersumber dari kelalaian. Mulai dari kompor yang lupa dimatikan, gangguan pada instalasi listrik, sampai pembakaran sampah tanpa pengawasan,” ujar Tedi.

Baca juga:  Pavingisasi Lahan Pasar Loak Capai 85 Persen, Disperindag Kota Blitar Targetkan Rampung Pekan Depan

Data Damkar menunjukkan, sepanjang Januari hingga Oktober 2025 tercatat 39 kejadian kebakaran. Jika dirinci per bulan, Januari terjadi dua kejadian, Februari tujuh kejadian, Maret empat kejadian, April lima kejadian, Mei dan Juni masing-masing tiga kejadian, Juli satu kejadian, Agustus dua kejadian, serta September dan Oktober masing-masing enam kejadian.

Jumlah tersebut kembali bertambah pada dua bulan terakhir tahun 2025. Pada November tercatat tiga peristiwa kebakaran, yang terdiri dari satu kebakaran kendaraan roda empat dan dua kebakaran rumah warga. Sementara itu, pada Desember terjadi dua insiden, yakni kebakaran gudang tusuk sate dan kebakaran kandang ternak.

Berdasarkan objek yang terdampak, rumah atau tempat tinggal menjadi lokasi yang paling sering mengalami kebakaran. Sepanjang 2025, Damkar mencatat sedikitnya 24 kasus kebakaran rumah.

Baca juga:  Kesenjangan Infrastruktur, Inisiatif Pemekaran 7 Kecamatan Blitar Selatan Makin Serius

Selain itu, terdapat kebakaran pada tiga unit mobil, lima kandang ternak, dua toko, dua gudang, satu bengkel, satu gedung DPRD, satu area pabrik, satu lahan, serta satu kasus kebakaran aspal jalan.

Tedi menegaskan bahwa sebagian besar kejadian tersebut sejatinya bisa dicegah apabila masyarakat memiliki tingkat kewaspadaan yang lebih baik. Ia mengimbau warga untuk memastikan instalasi listrik dalam kondisi layak, tidak menggunakan sambungan listrik berlebihan, serta menghindari praktik pembakaran sampah secara sembarangan.

“Kalau masyarakat lebih berhati-hati dan memiliki kepedulian terhadap keselamatan, potensi kebakaran sebenarnya bisa ditekan,” jelasnya.

Tidak hanya fokus pada pemadaman, Damkar Kabupaten Blitar juga terus menggencarkan upaya pencegahan. Berbagai program edukasi telah dilakukan seperti pembentukan desa tangguh kebakaran, penyuluhan keselamatan di sekolah-sekolah, serta kerja sama dengan perangkat desa dan relawan kebencanaan.

Baca juga:  UMK Kabupaten Blitar 2026 Alami Kenaikan, Disnaker Siap Lakukan Sosialisasi ke Perusahaan

Menurut Tedi, langkah pencegahan menjadi kunci utama untuk menurunkan angka kebakaran di masa mendatang. “Tugas kami bukan semata-mata memadamkan api. Upaya pencegahan agar kebakaran tidak terus terulang justru jauh lebih penting, dan itu dimulai dari edukasi masyarakat,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa memasuki musim hujan, potensi kebakaran tetap perlu diantisipasi. Kondisi kabel listrik yang lembap kerap memicu korsleting dan berujung pada kebakaran. “Musim hujan bukan jaminan bebas dari kebakaran. Justru risiko hubungan arus pendek sering meningkat karena kelembapan,” pungkas Tedi. (IND/SAN)

Iklan