Tradisi mudik Lebaran yang membuat jutaan orang berpindah dari satu daerah ke daerah lain menjadi perhatian serius otoritas kesehatan di Kabupaten Blitar.

Di tengah kebahagiaan berkumpul bersama keluarga, terdapat potensi risiko penyebaran penyakit yang dapat terbawa para pemudik dari daerah asalnya, baik berupa virus, bakteri, maupun kuman penyebab penyakit.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar, dr. Christine Indrawati, menyampaikan bahwa tingginya mobilitas masyarakat selama masa mudik dapat memicu peningkatan kasus penyakit menular.

Beberapa penyakit yang berpotensi meningkat di antaranya campak dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Ia menjelaskan bahwa hingga saat ini kondisi kasus campak di Kabupaten Blitar masih relatif terkendali. Meski begitu, kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan untuk mencegah kemungkinan lonjakan kasus setelah momen Lebaran.

“Kalau secara gejala ada, tetapi tidak banyak sekali. Masyarakat Blitar relatif dominan mau mengikuti saran atau program imunisasi lengkap. Mayoritas warga juga masih tertib mengikuti jadwal imunisasi campak pada usia 9 bulan,” ujar dr. Christine, Rabu (11/01/2026).

Baca juga:  69 Sapi di Blitar Terjangkit PMK, Peternak Diimbau Tingkatkan Kewaspadaan

Menurutnya, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya imunisasi dasar lengkap menjadi faktor utama yang membantu menjaga stabilitas kasus campak di wilayah tersebut.

Meski demikian, perpindahan masyarakat dalam jumlah besar selama arus mudik tetap berpotensi menjadi jalur masuknya berbagai patogen dari luar daerah ke Kabupaten Blitar.

“Tradisi mudik setiap tahun memang berpotensi membawa virus, bakteri, maupun kuman dari daerah lain masuk ke Blitar,” tambahnya.

Selain campak, dr. Christine juga menyoroti potensi meningkatnya kasus ISPA. Penyakit ini biasanya mengalami peningkatan saat musim pancaroba dan menjadi salah satu penyakit yang paling sering ditemukan di berbagai daerah.

Ia juga mengingatkan bahwa virus penyebab Covid-19 sebenarnya belum sepenuhnya hilang, meskipun status pandemi telah berakhir.

“Potensi yang paling sering muncul biasanya ISPA, karena di mana-mana kasusnya memang paling banyak, apalagi saat musim pancaroba. Selain itu juga penyakit yang disebabkan virus, termasuk campak. Dan jangan lupa, Covid-19 sebenarnya tidak benar-benar hilang, kemungkinan masih ada,” tegasnya.

Untuk mengantisipasi berbagai risiko tersebut, Dinkes Kabupaten Blitar mengimbau masyarakat, khususnya para pemudik, agar menjaga kondisi kesehatan selama melakukan perjalanan.

Ia menekankan pentingnya menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi serta memastikan kebutuhan cairan tubuh terpenuhi. Hal ini terutama penting bagi masyarakat yang tetap menjalankan ibadah puasa saat melakukan perjalanan mudik.

“Bagi yang mudik dan melakukan perjalanan jauh, jaga kondisi tubuh dan stamina. Saat berbuka puasa, usahakan makan makanan yang bergizi. Dan yang sering terlupakan adalah minum air yang cukup,” kata dr. Christine.

Baca juga:  Bangunan Semi Permanen Tutupi Saluran Air, DPUPR Kota Blitar Ambil Langkah Tegas

Perhatian khusus juga diberikan kepada orang tua yang memiliki bayi berusia di bawah sembilan bulan. Pada usia tersebut, bayi belum mendapatkan imunisasi campak sehingga masih termasuk kelompok yang rentan terhadap infeksi.

Meski demikian, bayi biasanya masih memiliki perlindungan alami yang berasal dari antibodi ibunya, terutama jika sang ibu memiliki riwayat imunisasi yang baik.

“Bayi di bawah sembilan bulan umumnya masih memiliki kekebalan yang didapat dari ibunya. Harapannya, jika imunitas ibunya baik dan pernah mendapatkan imunisasi campak, bayinya juga memiliki perlindungan. Namun tetap harus waspada karena mereka belum menerima imunisasi sendiri,” pungkasnya. (HEV/YUN)

Iklan