Populasi Rusa Bertambah, Pemkot Blitar Rancang Pemindahan ke Eco Park Joko Pangon
Hingga saat ini, Taman Kebon Rojo masih menjadi ruang terbuka hijau andalan bagi warga Blitar dan sekitarnya. Sejak pagi sampai sore hari, taman yang berada di pusat kota itu hampir tak pernah lengang. Arus pengunjung silih berganti, bahkan jumlahnya kerap membludak saat akhir pekan maupun libur panjang.
Di kawasan Kebon Rojo, anak-anak bebas bermain, orang tua dapat bersantai, sambil menikmati rindangnya pepohonan tanpa perlu mengeluarkan biaya besar. Pengunjung cukup membayar parkir kendaraan untuk bisa menikmati taman yang sarat nilai sejarah sekaligus berfungsi sebagai sarana edukasi lingkungan tersebut.
Di balik citranya sebagai tempat wisata murah dan sederhana, Kebon Rojo menyimpan perjalanan panjang Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar dalam menjaga keseimbangan antara ruang publik, konservasi satwa, serta kenyamanan pengunjung. Seiring waktu, berbagai upaya terus dilakukan agar taman ini semakin tertata, ramah bagi masyarakat, sekaligus layak sebagai habitat satwa.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Blitar, Jajuk Indihartati, menegaskan bahwa Kebon Rojo bukan sekadar taman kota biasa. Di dalamnya terdapat koleksi satwa yang memerlukan perawatan sesuai standar kesehatan dan kesejahteraan.
Oleh sebab itu, hampir setiap tahun pemkot mengalokasikan anggaran untuk pemeliharaan fasilitas, perbaikan kandang, serta pemeriksaan kesehatan satwa secara rutin.
“Pengembangan Kebon Rojo kami lakukan secara bertahap. Tidak hanya menambah fasilitas untuk pengunjung, tetapi juga memastikan satwa di dalamnya tetap sehat dan nyaman,” ujar Jajuk.
Saat ini, salah satu perhatian utama tertuju pada rusa. Populasi rusa di Kebon Rojo terus meningkat dari tahun ke tahun. Kondisi tersebut di satu sisi menunjukkan lingkungan taman masih mendukung perkembangbiakan satwa, namun di sisi lain keterbatasan luas kandang menjadi tantangan tersendiri.
“Kandang rusa di Kebon Rojo sangat terbatas. Jika populasinya terus bertambah tanpa penanganan, hal itu justru bisa berdampak pada kesehatan dan kenyamanan rusa,” katanya.
Sebagai solusi, pemkot menyiapkan langkah strategis dengan memindahkan sebagian rusa ke kawasan Eco Park Joko Pangon atau Taman Joko Pangon. Kawasan yang berada di Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan, tersebut sedang dikembangkan sebagai taman berbasis konservasi dan edukasi lingkungan.
Konsep Eco Park Joko Pangon dirancang berbeda. Selain berfungsi sebagai ruang terbuka hijau, kawasan ini nantinya akan menjadi habitat satwa dengan area yang lebih luas dan alami.
“Pemindahan rusa penting agar mereka dapat hidup di tempat yang lebih representatif, lapang, dan sesuai dengan prinsip konservasi,” tutur Jajuk.
Meski demikian, proses pemindahan tidak dilakukan secara terburu-buru. Pada tahun 2025, pemkot masih memprioritaskan penataan awal Eco Park Joko Pangon. Penyempurnaan area pintu masuk, jalur akses, serta fasilitas pendukung menjadi fokus utama.
“Untuk konservasinya kami lakukan bertahap. Tahun ini fokus pada pembangunan infrastruktur dasar,” jelasnya.
Sebagai catatan, pembangunan Eco Park Joko Pangon tahap pertama menghabiskan anggaran sekitar Rp 2,5 miliar, sementara tahap kedua pada 2025 mencapai Rp 800 juta. Dana tersebut dialokasikan untuk pembangunan fasilitas dasar, penataan kawasan, serta mendukung konsep taman konservasi yang aman dan edukatif.
Ke depan, Eco Park Joko Pangon diharapkan dapat menjadi ruang belajar terbuka bagi masyarakat. Melalui kawasan ini, warga dapat mengenal satwa lebih dekat, memahami pentingnya konservasi, serta menumbuhkan kesadaran pelestarian lingkungan sejak usia dini. (HEV/YUN)



