Meski Ditolak, Pembangunan KDMP di Lingkungan SDN Tlogo 2 Blitar Tetap Berjalan

tiga siswa menyusuri tembok seng pembangunan KDMP di lingkungan sekolah (Sumber gambar: blitarkawentar.jawapos.com)

Rasa pasrah dan tak berdaya kini dirasakan oleh warga SDN Tlogo 2. Kondisi ini muncul setelah bupati memutuskan bahwa sejumlah ruangan di sekolah tersebut harus dialihfungsikan untuk pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Pemandangan yang cukup memprihatinkan terlihat saat beberapa siswa melintas di area yang akan dijadikan lokasi pembangunan KDMP Tlogo. Letaknya persis di samping ruang belajar mereka. Kini, area tersebut sudah dipagari tembok seng sebagai tanda kesiapan pembangunan.

Penolakan sebenarnya datang dari berbagai pihak, mulai dari guru, wali murid, hingga kalangan legislatif. Namun pada akhirnya, semua pihak terpaksa menerima keputusan tersebut dan merelakan pembangunan koperasi desa di lingkungan sekolah.

Baca juga:  Dituduh Maling Kambing, Pria di Blitar Tewas Dihakimi Massa

“Kami sebenarnya menolak. Tapi kalau pimpinan, bahkan kepala daerah sudah memberi izin, kami tidak bisa berbuat apa-apa,” ujar salah satu guru yang enggan disebutkan namanya.

Ia menjelaskan bahwa beberapa fasilitas sekolah akan terdampak, seperti ruang perpustakaan, ruang kepala sekolah, hingga ruang ekstrakurikuler siswa yang akan dialihfungsikan menjadi bagian dari proyek KDMP.

Kondisi ini menimbulkan kebingungan di kalangan guru, terutama terkait penempatan koleksi buku perpustakaan. Hingga saat ini, belum ada kejelasan mengenai lokasi baru untuk menyimpan buku-buku tersebut.

“Kami juga masih bingung mau dipindahkan ke mana. Tidak ada ruang kosong yang bisa digunakan, jadi kami benar-benar belum punya solusi,” ungkapnya.

Terkait janji penyediaan ruang pengganti, ia mengaku belum melihat realisasi hingga saat ini. Ia pun tidak mengetahui secara pasti bagaimana kebijakan lanjutan dari pemerintah daerah.

“Memang sempat ada rencana pembangunan ruang pengganti. Tapi sampai sekarang, bahkan ketika pembangunan KDMP akan dimulai, belum ada kejelasan,” tambahnya.

Sementara itu, seorang wali murid mengaku tidak terlalu memahami persoalan pembangunan tersebut. Ia hanya berharap kegiatan belajar anaknya tidak terganggu.

“Saya tidak terlalu tahu soal itu. Yang penting anak saya tetap bisa sekolah dengan nyaman,” ujarnya.

Baca juga:  Kapolri Bentuk Timsus untuk Lindungi dan Kawal Hak Buruh

Namun, ia juga mempertanyakan dampak jika fasilitas seperti perpustakaan dan ruang kegiatan siswa benar-benar dihilangkan. Selama ini, ruang-ruang tersebut digunakan untuk berbagai aktivitas, seperti latihan menari hingga kegiatan mengaji.

“Kalau ruang-ruang itu tidak ada, kegiatan anak-anak nanti mau dilakukan di mana?” tanyanya.

Ia mengaku sempat mendengar keluhan dari pihak sekolah, namun pembangunan tetap berjalan. Ia pun menyerahkan sepenuhnya proses pendidikan anaknya kepada pihak sekolah.

“Sepertinya guru sudah menolak, tapi pembangunan tetap dilanjutkan. Semoga tidak mengganggu proses belajar. Kalau sampai terganggu, tentu kasihan anak-anak yang ingin fokus belajar,” tutupnya. (HEV/YUN)

Tinggalkan Komentar

Iklan