Transisi energi global adalah keniscayaan yang didorong oleh urgensi mengatasi perubahan iklim dan ambisi untuk mencapai target Net Zero Emission. Pergeseran ini menuntut pengurangan drastis penggunaan bahan bakar fosil.

Namun, dalam perjalanan menuju sistem energi yang didominasi oleh energi terbarukan, gas alam muncul sebagai entitas yang kompleks bukan lagi bahan bakar fosil yang dominan, melainkan sebuah jembatan energi.

Pertanyaannya, seberapa jauh jembatan ini akan membentang dan bagaimana gas alam dapat menyesuaikan diri agar tetap relevan dalam ekonomi rendah karbon masa depan?

Gas Alam sebagai Penjamin Stabilitas Jaringan Listrik

Keunggulan utama energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin adalah sifatnya yang bersih, tetapi kelemahannya adalah intermitensi ketersediaan yang tidak stabil. Inilah ruang peran krusial bagi gas alam.

Pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) dan gabungan gas-uap (PLTGU) menawarkan fleksibilitas operasional yang tinggi. Keduanya dapat dinyalakan (ramp up) dan dimatikan (ramp down) dalam waktu yang jauh lebih cepat dibandingkan pembangkit batu bara atau nuklir.

Kemampuan vital ini berfungsi untuk menyeimbangkan jaringan listrik ketika terjadi penurunan produksi mendadak dari energi terbarukan, misal saat mendung atau tidak ada angin.

Gas alam juga memungkinkan negara-negara untuk melanjutkan upaya dekarbonisasi dengan mengganti pembangkit batu bara yang sangat berpolusi dengan pembangkit gas yang relatif lebih bersih.

Baca juga:  Apa yang Membuat Tomcat Banyak Muncul Saat Musim Hujan?

Pergeseran coal-to-gas switching ini menawarkan pengurangan emisi karbon yang signifikan dalam jangka pendek, menciptakan ruang bagi energi terbarukan untuk berkembang dan teknologi penyimpanan energi (baterai) menjadi lebih murah dan efisien.

Tantangan Kritis

Meskipun gas alam menghasilkan emisi CO2 lebih rendah saat dibakar, perannya sebagai jembatan dikritik karena dua tantangan besar yang harus diatasi:

Ancaman Metana CH4

Gas alam sebagian besar adalah metana. Ketika metana bocor dari sumur, pipa, dan fasilitas pengolahan sebelum dibakar ia menjadi gas rumah kaca yang sangat kuat, dengan potensi pemanasan global sekitar 80 kali lebih tinggi daripada CO2 selama periode 20 tahun.

Untuk mempertahankan citranya sebagai bahan bakar transisi yang bersih, industri gas alam harus berinvestasi besar dalam teknologi deteksi kebocoran canggih dan perbaikan infrastruktur yang masif. Kebocoran metana harus diminimalisir hingga mendekati nol agar manfaat iklim dari coal-to-gas switching tidak tergerus.

Risiko Stranded Assets

Investasi besar pada infrastruktur gas alam baru, seperti pipa dan terminal LNG, berisiko menjadi aset yang terdampar (stranded assets) seiring percepatan transisi energi. Jika batas waktu Net Zero semakin dekat, infrastruktur yang baru dibangun mungkin harus ditinggalkan sebelum masa pakainya habis.

Ini akan menimbulkan kerugian ekonomi besar dan mengunci ketergantungan pada bahan bakar fosil selama beberapa dekade.

Integrasi Gas Alam dengan Hidrogen

Untuk mencapai masa depan energi yang benar-benar rendah karbon, gas alam perlu bertransformasi dari sekadar bahan bakar pembakaran menjadi bahan baku dalam sistem energi bersih. Transformasi ini terutama berpusat pada pengembangan hidrogen.

Salah satu jalur utama adalah hidrogen biru, yaitu hidrogen yang diproduksi dari gas alam melalui proses steam methane reforming (SMR) atau autothermal reforming (ATR), dengan tingkat penangkapan emisi CO₂ yang tinggi.

Hidrogen dikategorikan sebagai “biru” apabila emisi karbon dari proses produksinya ditangkap dan dikelola melalui teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS), terutama melalui penyimpanan geologis jangka panjang.

Kombinasi gas alam, hidrogen, dan CCUS memiliki peran penting dalam mendekarbonisasi sektor industri berat (hard-to-abate) seperti semen, baja, dan petrokimia, di mana elektrifikasi penuh masih sangat sulit secara teknis maupun ekonomis.

Selain itu, infrastruktur pipa gas yang sudah ada dapat dimanfaatkan secara terbatas untuk pengangkutan campuran hidrogen dan gas alam, sehingga berpotensi mengurangi kebutuhan pembangunan infrastruktur energi baru secara menyeluruh.

Namun, pemanfaatan ini memerlukan penyesuaian teknis dan standar keselamatan yang ketat, terutama untuk penggunaan hidrogen dengan konsentrasi tinggi.

Baca juga:  Cara Tepat Memenuhi Kebutuhan Finansial dengan Pinjaman Uang Tunai Bunga Rendah

Dengan demikian, gas alam tetap memegang peran penting sebagai mitra bersyarat dalam transisi energi menuju sistem berbasis energi terbarukan. Peran tersebut hanya dapat dipertahankan apabila dua syarat utama terpenuhi:

  • Emisi metana ditekan secara drastis, termasuk dari kebocoran di seluruh rantai pasok.
  • Pemanfaatan gas alam secara progresif dialihkan dari pembakaran langsung menuju produksi hidrogen rendah karbon dengan dukungan CCUS.

Dengan investasi yang tepat pada teknologi mitigasi emisi dan dekarbonisasi, gas alam dapat berfungsi sebagai aset transisi yang fleksibel, mendukung sistem energi yang aman, stabil, dan berkelanjutan.

Dalam konteks transisi energi dan upaya mencapai Net Zero Emission, peran gas alam sebagai energi jembatan membutuhkan pengelolaan yang semakin adaptif, efisien, dan rendah emisi. PGN LNG Indonesia mengambil posisi strategis dalam mendukung peran tersebut melalui pengembangan dan pengelolaan infrastruktur LNG yang fleksibel dan berkelanjutan.

Dengan menyediakan solusi LNG untuk pembangkit listrik, industri, hingga wilayah yang belum terjangkau jaringan pipa, serta membuka peluang integrasi gas alam dengan teknologi rendah karbon di masa depan, PGN LNG Indonesia berkontribusi menjaga ketahanan energi nasional sekaligus mendukung arah dekarbonisasi dan transisi menuju sistem energi yang lebih bersih.

Iklan