Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar melaporkan sebanyak 188 warga terinfeksi penyakit chikungunya sejak Januari hingga akhir Oktober 2025. Kasus terbanyak ditemukan di Kecamatan Wlingi dengan total 70 penderita. Kondisi ini menjadi perhatian serius, terutama karena wilayah Blitar kini mulai memasuki musim penghujan.

Subkoordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kabupaten Blitar, Eko Wahyudi, menjelaskan bahwa mayoritas penderita merupakan orang dewasa dengan gejala nyeri sendi berat, demam tinggi, serta sakit kepala. Ia menegaskan, penyakit ini tetap berisiko menyerang semua kelompok usia sehingga perlu diantisipasi bersama.

Baca juga:  Pemkab Blitar Mulai Proses Pengangkatan PPPK Paruh Waktu, Targetkan Zero Honorer 2025

“Chikungunya disebabkan oleh virus Chikungunya (CHIKV) yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Karena itu, kami mengimbau masyarakat untuk rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN),” ujarnya.

Eko menambahkan, saat musim hujan, genangan air sering muncul dan menjadi tempat ideal bagi jentik nyamuk berkembang biak. Ia menekankan bahwa PSN merupakan cara paling efektif untuk mencegah penularan penyakit yang dibawa oleh nyamuk tersebut.

“Masyarakat perlu membersihkan tempat penampungan air, menutup wadah, dan mengurasnya secara rutin agar perkembangbiakan nyamuk dapat dicegah,” jelasnya.

Baca juga:  Rijanto-Beky Unggul di LSI Denny JA, Berikut Tanggapan Tim Rini-Ghoni

Hingga saat ini, tidak ada korban meninggal dunia akibat chikungunya di Kabupaten Blitar. Seluruh pasien yang teridentifikasi telah mendapatkan penanganan medis di puskesmas maupun rumah sakit.

Meski jumlah kasus tahun ini menurun dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 299 kasus, Dinkes tetap mengingatkan pentingnya antisipasi dini agar angka penularan tidak kembali meningkat.

“Kami berharap masyarakat tetap waspada. Musim hujan sering memicu lonjakan kasus penyakit yang ditularkan nyamuk, termasuk chikungunya dan demam berdarah. Upaya pencegahan harus dimulai dari lingkungan rumah masing-masing,” pungkas Eko. (HEV/YUN)

Iklan