Jika Anda bergerak di bisnis logistik atau memiliki bisnis yang bergantung pada distribusi barang, Anda pasti tahu bahwa efisiensi pengiriman adalah segalanya.

Terlambat satu hari saja, bisa berdampak besar pada kepuasan pelanggan, biaya operasional, hingga reputasi bisnis Anda.

Salah satu solusi ideal untuk mempercepat dan mengefisienkan distribusi barang adalah transportasi multimodal, yaitu penggabungan berbagai moda transportasi, darat, laut, dan udara dalam satu rangkaian pengiriman yang terintegrasi.

Namun, seiring berkembangnya kebutuhan logistik di Indonesia, justru muncul pertanyaan besar: Apakah infrastruktur pendukung transportasi multimodal kita sudah siap?

Apa Itu Transportasi Multimodal dan Mengapa Penting?

Transportasi multimodal adalah sistem pengangkutan barang yang menggunakan lebih dari satu moda transportasi, seperti darat, laut, udara, atau kereta, dalam satu rangkaian perjalanan, diatur di bawah satu kontrak pengiriman.

Konsep ini memungkinkan efisiensi tinggi karena seluruh perjalanan dikoordinasikan oleh satu operator.

Di Indonesia, transportasi multimodal bukan sekadar tren, tetapi kebutuhan mutlak. Pertumbuhan e-commerce, ekspor-impor, dan distribusi antarwilayah membuat integrasi moda transportasi menjadi solusi vital.

Baca juga:  Marak Rokok Ilegal, Bea Cukai Blitar Sita 2,6 Juta Batang

Dengan kondisi geografis yang terdiri dari ribuan pulau, penggabungan moda transportasi adalah keharusan untuk menjaga kelancaran arus barang.

Bayangkan pengiriman dari pabrik di Bandung ke konsumen di Ambon. Barang diangkut lewat truk ke pelabuhan, dikirim menggunakan kapal, lalu dilanjutkan dengan moda darat atau udara di Maluku.

Semua ini memerlukan sistem yang sinkron, infrastruktur memadai, dan koordinasi lintas operator. Tantangannya mencakup perbedaan regulasi, keterbatasan sarana prasarana, dan biaya tambahan jika tidak dikelola dengan tepat.

Tantangan Infrastruktur Transportasi Multimodal di Indonesia

1. Kurangnya Konektivitas Antar Moda

Salah satu persoalan utama adalah lemahnya konektivitas fisik antara pelabuhan, bandara, terminal darat, dan pusat distribusi. Banyak pelabuhan besar, seperti Pelabuhan Tanjung Priok atau Belawan, belum sepenuhnya terhubung langsung dengan jaringan jalan tol atau rel kereta khusus barang.

Akibatnya, proses perpindahan kontainer dari kapal ke truk atau kereta memakan waktu lebih lama, menambah waktu tunggu (dwell time) di pelabuhan, dan meningkatkan biaya logistik secara keseluruhan.

2. Kurangnya Sistem IT Terpadu

Transportasi multimodal sangat mengandalkan integrasi sistem informasi. Sayangnya, data dari pelabuhan, gudang, operator truk, hingga maskapai masih belum terhubung dalam satu sistem digital yang bisa diakses semua pihak.

Hal ini menyulitkan pelacakan real-time dan menyebabkan inefisiensi dalam pengambilan keputusan. Proses yang seharusnya otomatis masih banyak dilakukan secara manual.

3. Minimnya Terminal Multimoda Terintegrasi

Terminal yang bisa melayani perpindahan barang dari satu moda ke moda lain dalam satu lokasi masih sangat terbatas. Padahal terminal semacam ini bisa mengurangi biaya penanganan, mempercepat waktu bongkar-muat, dan menekan risiko kerusakan barang.

Di negara-negara seperti Singapura atau Belanda, terminal multimoda bukan barang baru. Namun di Indonesia, pembangunan fasilitas seperti ini masih terbatas pada kota-kota besar dan belum merata.

4. Biaya Logistik Masih Tinggi

Biaya logistik Indonesia masih berada di angka 23–24% dari PDB, jauh di atas rata-rata global yang hanya 13–14%. Salah satu penyebabnya adalah inefisiensi sistem multimodal yang belum optimal.

Baca juga:  Manfaat Bahasa Arab untuk Pendidikan dan Karier Internasional

Bagi pelaku usaha, ini bukan hanya soal angka, tapi soal daya saing. Produk lokal jadi kalah saing karena biaya pengiriman lebih mahal dari negara tetangga.

Apa Dampaknya untuk Anda sebagai Pemilik Bisnis?

Ketika infrastruktur multimodal belum maksimal, Anda sebagai pelaku usaha akan terus menghadapi tantangan:

  • Barang terlambat sampai ke pelanggan
  • Biaya pengiriman membengkak
  • Sulit memperluas jangkauan pasar ke wilayah Indonesia Timur atau daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar)
  • Ketergantungan pada satu moda transportasi yang rentan gangguan cuaca atau kemacetan

Infrastruktur pendukung transportasi multimodal di Indonesia memang masih menghadapi banyak tantangan. Tapi bukan berarti Anda harus pasrah dengan kondisi ini. Anda tetap bisa beradaptasi dan mengambil langkah cerdas dengan memilih solusi logistik yang tepat, transparan, dan efisien.

Pelaku usaha perlu pintar-pintar memilih mitra logistik yang bisa memberikan solusi multimodal yang efisien dan fleksibel. Salah satunya seperti forwarder.ai yang hadir sebagai platform digital pengiriman barang dengan layanan multimoda yang transparan, cepat, dan dapat dipantau secara real-time.

Iklan