Dapur MBG di Kabupaten Blitar Jalankan SOP Ketat, Antisipasi Keracunan

Petugas SPPG menggunakan APD lengkap untuk Mengolah MBG (Sumber gambar: blitarkawentar.jawapos.com)

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Blitar resmi bergulir dengan penerapan pengawasan yang ketat. Salah satu titik pelaksanaannya berada di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Suruhwadang, Kecamatan Kademangan.

Pihak pengelola menegaskan bahwa pencegahan keracunan menjadi fokus utama pada peluncuran perdana program tersebut. Kepala SPPG Suruhwadang, Syahira Yumna Azizah, menjelaskan bahwa pihaknya memilih membatasi jumlah penerima manfaat di tahap awal.

Untuk sementara, mereka hanya menyalurkan makanan bergizi kepada 2.553 penerima dari enam desa di Kecamatan Kademangan. Langkah ini diambil karena jika langsung menjangkau lebih dari 3.000 sasaran, dikhawatirkan distribusi tidak maksimal dan relawan justru kewalahan.

“Untuk mencegah kasus keracunan yang pernah viral di daerah lain, kami mengambil dua langkah utama. Pertama, seluruh relawan diwajibkan mengikuti uji coba serta pelatihan khusus mengenai penyimpanan, kebersihan, hingga pencegahan kontaminasi silang,” jelas Syahira.

Baca juga:  Empat Anggota Polres Blitar Dipecat Tidak Hormat, Terbukti Langgar Kode Etik dan Disiplin Berat

Selain itu, SPPG Suruhwadang aktif memberikan edukasi kepada masyarakat melalui media sosial. Melalui akun Instagram dan TikTok, mereka menayangkan proses di dapur mulai dari pembersihan umum hingga tata cara menjaga makanan tetap steril.

“Steril sekaligus transparan. Jadi masyarakat bisa langsung melihat bahwa dapur kami bersih melalui media sosial,” tambahnya.

Pada tahap awal, program MBG menjangkau 31 sekolah. Jika diperluas ke seluruh desa, jumlah penerima manfaat bisa meningkat hingga 3.500 siswa di 49 sekolah. Untuk menunjang distribusi, SPPG menambah armada, termasuk motor modifikasi untuk wilayah dengan akses jalan sulit.

Baca juga:  Jumlah Kematian Ibu Hamil di Blitar Mengalami Peningkatan, Dinkes Jelaskan Faktor Penyebabnya

“Jika mobil tidak bisa masuk, motor modifikasi jadi solusi. Prinsipnya, semua anak harus mendapatkan makanan bergizi, tidak boleh ada yang tertinggal,” ujar Syahira.

Ia juga menekankan pentingnya penggunaan bahan pangan lokal. Telur, ayam, tahu, dan tempe dipasok langsung dari peternak serta perajin sekitar. Bahkan tenaga dapur lebih banyak berasal dari warga desa setempat, sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat.

Dengan penerapan standar operasional prosedur (SOP) ketat, pelatihan relawan, pemanfaatan bahan lokal, serta dukungan DPRD, program MBG diharapkan berjalan aman dan merata. “Yang terpenting anak-anak bisa menikmati makanan bergizi tanpa rasa khawatir,” katanya.

Baca juga:  Dispendukcapil Kota Blitar Kebut Aktivasi IKD, Target 30 Persen Dikejar Jelang Akhir Tahun

Sementara itu, Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Blitar, Fatatoh Hironi Ulya, menegaskan pihaknya akan terus mengawal jalannya program MBG, mulai dari dapur hingga ke tangan penerima manfaat. Ia menilai SPPG Suruhwadang sudah menerapkan SOP dengan baik, termasuk standar higienis yang memenuhi syarat.

Selain itu, pihaknya juga siap berkoordinasi dengan laboratorium kesehatan daerah (labkesda) di Kecamatan Sutojayan untuk memastikan standar keamanan pangan tetap terjaga, sehingga kasus keracunan bisa dihindari.

“Kalau saya lihat, pelaksanaan di Blitar ini sudah luar biasa. SOP jelas, higienitas terpenuhi. Insya Allah aman,” pungkasnya. (HEV/YUN)

Iklan