Di saat wacana keterlibatan ayah dalam pengambilan rapor anak terus digaungkan, seorang guru sekolah dasar di Kota Blitar justru mengambil langkah berbeda yang penuh kepedulian. Wali Kelas II SD Negeri Gedog 1, Kota Blitar, Jawa Timur, Riyang Mahardhani, memilih mengantarkan langsung rapor hasil belajar semester pertama tahun ajaran 2025 ke rumah masing-masing siswanya. Total ada 23 siswa yang ia kunjungi satu per satu pada Kamis, 18 Desember 2025.

Sejak pagi hari sekitar pukul 07.00 WIB, Riyang mulai menjalankan niatnya. Ia mendatangi rumah siswa secara berurutan hingga kunjungan terakhir selesai menjelang sore hari. Ide tersebut muncul dari kegelisahan pribadi terhadap rutinitas pembagian rapor yang selama ini terasa monoton.

Ia mengungkapkan bahwa selama ini kegiatan penerimaan rapor cenderung berjalan dengan pola yang sama dari tahun ke tahun. “Saya kebetulan merasa jenuh dengan pola pembagian rapor yang itu-itu saja,” tutur Riyang pada Jumat (19/12/2025).

Baca juga:  Dua Penambang yang Hilang di Longsor Kali Putih, Ditemukan Tak Bernyawa

Dari rasa jenuh itulah kemudian muncul gagasan untuk menjadikan momen pembagian rapor sebagai sarana pendekatan yang lebih bermakna dengan siswa dan orang tua. Ia menegaskan bahwa tujuan kunjungan ini bukan untuk melakukan konseling resmi.

“Lalu saya berpikir, bagaimana kalau kegiatan penerimaan rapor ini dimanfaatkan untuk mendekatkan diri dengan murid, tapi bukan dalam konteks konseling,” ujarnya dengan redaksi berbeda.

Sebelum merealisasikan rencana tersebut, Riyang terlebih dahulu menyampaikannya kepada kepala sekolah sekaligus meminta persetujuan. Setelah memperoleh izin, ia menginformasikan rencana pengantaran rapor melalui grup WhatsApp wali murid kelasnya. Ia juga meminta para orang tua mengirimkan titik lokasi rumah melalui Google Maps agar rute kunjungan bisa diatur secara efektif.

Demi menjaga efisiensi waktu, Riyang membatasi durasi kunjungan maksimal lima menit di setiap rumah. Ia bahkan meminta wali murid agar tidak menyiapkan jamuan apa pun. “Sebelum datang, saya sampaikan supaya tidak repot-repot menyiapkan makanan atau minuman. Saya bilang saja sedang berpuasa,” ungkapnya.

Meski mengaku cukup menguras tenaga, Riyang merasa kepuasan tersendiri setelah seluruh rapor berhasil disampaikan langsung. Ia menyebut kunjungan tersebut memberinya banyak informasi berharga mengenai kondisi dan latar belakang siswa yang sulit diperoleh jika hanya bertemu di sekolah.

Menurutnya, pertemuan tatap muka di rumah membuat wali murid lebih leluasa menyampaikan kendala belajar anak. Ia menilai suasana sekolah sering kali membuat orang tua merasa sungkan.

“Kalau pembagian rapor di sekolah secara bersama-sama, biasanya wali murid merasa tegang atau malu, apalagi kalau nilai anaknya kurang baik dan diketahui orang tua lain,” ujarnya. Riyang yang juga dikenal sebagai penabuh drum di salah satu grup band lokal ini menambahkan bahwa suasana rumah membuat diskusi terasa lebih santai dan fokus pada perkembangan tiap anak.

Baca juga:  200 Pesepeda Ramaikan Nggravel Blitar 2025, Gowes Lewati Jalur Menantang Hingga Lereng Kelud

“Saya justru lebih menikmati membahas perkembangan siswa di rumah mereka. Saya bisa menjelaskan kelebihan anak dan bagian mana yang perlu terus dikembangkan,” katanya.

Meski pengalaman tersebut dinilainya positif, Riyang belum memastikan apakah metode serupa akan kembali dilakukan pada akhir semester berikutnya. Ia membuka kemungkinan jika memang dibutuhkan. “Kalau memang dirasa perlu, tentu bisa dilakukan lagi. Atau mungkin cukup satu kali dalam satu tahun ajaran,” pungkasnya. (IND/SAN)

Iklan