BPS Catat Lonjakan Panen Padi di Kota Blitar pada 2025

Data BPS menyebutkan bahwa hasil panen padi di Kota Blitar meningkat pesat (Sumber gambar: blitarkawentar,jawapos.com)

Kondisi cuaca yang cenderung lebih basah sepanjang 2025 memberikan angin segar bagi sektor pertanian di Kota Blitar. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Blitar mencatat adanya lonjakan signifikan pada luas panen dan produksi padi dibandingkan tahun sebelumnya.

Peningkatan hasil panen tersebut dinilai jauh lebih baik dibandingkan 2024. Secara keseluruhan, produksi padi mengalami kenaikan hingga sekitar 62,83 persen.

Kepala BPS Kota Blitar, Hanung Pramusito, menjelaskan bahwa kondisi cuaca selama 2025 relatif lebih mendukung kegiatan pertanian.

Hal ini berbeda dengan situasi pada 2024 yang sempat dilanda kekeringan di beberapa wilayah. Curah hujan yang cukup pada 2025 memungkinkan lahan sawah ditanami padi hingga dua kali dalam setahun.

Baca juga:  Di Balik Jeruji, Cinta Tetap Bersemi: Narapidana Polres Blitar Resmi Menikah di Masjid Polres

Ia menerangkan, luas panen merujuk pada total lahan yang dipanen padi selama satu tahun. Dengan kondisi cuaca yang lebih basah, sejumlah hamparan sawah yang sama dapat ditanami dan dipanen dua kali dalam periode tersebut.

Berdasarkan data BPS, luas panen padi di Kota Blitar pada 2024 tercatat sebesar 574,04 hektare. Angka itu meningkat menjadi 835,36 hektare pada 2025, atau bertambah sekitar 45,61 persen, setara dengan penambahan 261,82 hektare.

Hanung menambahkan, peningkatan tersebut menunjukkan bertambahnya luasan lahan yang ditanami padi berkat faktor cuaca, meskipun secara umum ketersediaan lahan pertanian terus mengalami penurunan.

Baca juga:  Gelar Apel Kesiapsiagaan dan Deklarasi Damai, Wali Kota Blitar Ajak Semua Lapisan Masyarakat Bersatu

Sejalan dengan kenaikan luas panen, produksi padi juga melonjak signifikan. Pada 2024, produksi padi tercatat sebesar 3.722,17 ton.

Sementara itu, pada 2025 jumlahnya meningkat menjadi 6.060,88 ton gabah kering giling (GKG), atau setara sekitar 3.499 ton beras. Secara persentase, produksi beras naik hingga 62,83 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Untuk memudahkan pemahaman, Hanung mengibaratkan kondisi tersebut seperti perbandingan antara luas tanah dan bangunan. Dalam satu bidang tanah, luas bangunan bisa lebih besar karena dibuat bertingkat.

Hal serupa terjadi di sektor pertanian, di mana dalam satu hamparan sawah, luas tanam dapat melebihi luas lahannya karena ditanami lebih dari satu kali dalam setahun, yang sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan jenis bibit padi yang digunakan. (HEV/YUN)

Iklan