Hanindhito Himawan Pramana selaku Bupati Kediri menduga adanya kelangkaan elpiji 3 kg atau elpiji subsidi yang terjadi di kawasannya akibat dari penggunaan yang tidak sesuai dengan peruntukan.

Hal tersebut karena berasal dari pengamatannya di lapangan, Dhito tidak menemukan masalah dalam mata rantai distribusi elpiji dari agen ke pangkalan. Menurutnya, ada beberapa penggunaan yang tidak sesuai dengan peruntukannya seperti di sektor peternakan.

Bupati Kediri yang terkenal dengan sapaan Mas Dito ini juga mengungkapkan bahwa sektor peternakan menajdi salah satu bidang yang tidak dibolehkan memanfaatkan elpiji 3 kg.

Hal tersebut tersampaikan dalam Surat Edaran Dirjen Migas No. B-2461/MG.05/DJM /2022 yang mengungkapkan bahwa beberapa usaha yang tidak boleh menggunakan elpiji subsisdi adalah usaha binatu, restoran, hotel, usaha batik, usaha peternakan, jasa las, dan usaha pertanian.

Baca juga:  Visi Politik Dianggap Janji Belaka, Buntut Wabup Blitar Mundur

Dhito sendiri menjelaskan bahwa pemakaian elpiji di sektor peternakan cukup besar sehingga pihaknya akan mengundang para peternak untuk mengikuti sosialiasi. Selain itu, sebagai evaluasi awal, Dhito juga bekerja sama dengan himpunan pengusaha minyak bumi dan gas untuk meminjamkan tabung gas non subsidi kepada para peternak.

Dengan adanya kegiatan peminjaman tersebut, tabung gas elpiji 3 kg dari peternak dapat ditarik kembali dengan mudah sehingga bisa ditujukan kepada masyarakat yang lebih tepat.

Selain penggunannya yang tidak sesuai dengan peruntukan, Mas Dhito juga menambahkan jika kelangkaan elpiji 3 kg juga akibat dari musim hajatan yang masyarakat gelar.

Baca juga:  Tren NFT di Indonesia Meningkat, Volume Perdagangan Tembus USD1 Miliar

Tidak hanya itu, kelangkaan tersebut juga karena bertepatan dengan hari libur nasional yang panjang sehingga kegiatan distribusi elpiji di level pengkalan juga terhambat.

Adapun berbicara tentang aturan penggunaan kartu identitas ketika membeli elpiji, Bupati menjelaskan bahwa hal tersebut berguna untuk memastikan bahwa subsidi diterima oleh sasaran yang tepat.

Dalam siaran pers yang dilakukan oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Kabupaten Kediri mencatat ada sekitar 198 peternak ayam broiler yang memanfaatkan elpiji subsidi untuk menghangatkan ayam yang masih berusia 1 hingga 10 hari.

Baca juga:  3.000 Lampu LED Dihibahkan ke Masyarakat Blitar oleh Kementerian ESDM

Padahal dalam satu periode pemeliharaan ayam, peternak bisa menghabiskan lebih dari 9.900 tabung. “Apabila dalam setahun bisa 2-3 periode, ya tinggalkan kita kalikan saja”, ujar Tutik Purwaningsih selaku Pelaksana tugas Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Kabupaten Kediri. Maka dari itu, pihaknya juga segera melakukan sosialiasi rencana Bupati Kediri untuk mengumpulkan para peternak supaya berpindah ke elpiji non subsidi.

Editor: Indo Guna Santy

Iklan