Dinkes Blitar Temukan 200 Kasus Balita Obesitas, Orang Tua Diminta Waspada

Kepala Dinas Kesehatan Kota Blitar Saat Diwawancara (Sumber foto: blitarkawentar.jawapos.com)

Balita yang terlihat gemuk dan memiliki nafsu makan tinggi belum tentu dalam kondisi sehat. Bisa jadi, kondisi tersebut menandakan adanya masalah kesehatan seperti kelebihan berat badan hingga obesitas.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Blitar mengungkapkan temuan mengejutkan. Sekitar 200 balita, atau sekitar 2,4 persen dari total 7.000 balita yang diperiksa di posyandu, mengalami obesitas. Meski angka tersebut masih di bawah ambang batas nasional sebesar 4 persen, Dinkes menilai situasi ini tetap membutuhkan perhatian serius dari masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Blitar, Dharma Setiawan, menjelaskan bahwa data ini diperoleh dari hasil pemeriksaan rutin di posyandu yang tersebar di wilayah Bumi Bung Karno.

Baca juga:  Angin Kencang Landa Blitar, 9 Desa dan 1 Kelurahan Terdampak, Dua Orang Luka

“Balita yang mengalami kelebihan berat badan ditentukan berdasarkan hasil pengukuran tinggi atau panjang badan sesuai usia. Jika hasilnya berada di angka +2 hingga +3 pada tabel status gizi, maka termasuk kategori kelebihan berat badan. Sementara jika melebihi +3, sudah dikategorikan obesitas,” jelasnya pada Minggu (27/7/2025).

Dharma mengimbau para orang tua agar tidak lagi menganggap kondisi anak gemuk sebagai hal yang membanggakan. Ia menekankan bahwa kegemukan tidak hanya terlihat dari tampilan fisik, tetapi juga bisa terjadi di organ dalam seperti jantung.

“Jantung balita yang obesitas harus bekerja lebih keras karena terbungkus lemak,” ujarnya.

Untuk mencegah obesitas pada anak, Dinkes menekankan pentingnya pola makan bergizi seimbang, termasuk asupan protein, kalori, dan serat, serta memastikan keseimbangan antara konsumsi makanan dan aktivitas fisik.

Menurut Dharma, kecenderungan balita saat ini lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai dibandingkan beraktivitas fisik di luar ruangan. Padahal, anak-anak seharusnya aktif bergerak dan bermain bersama teman-temannya agar kalori dalam tubuh bisa dibakar menjadi energi.

“Sekalipun makanannya sehat, jika anak kurang bergerak, kalori akan menumpuk dan berubah menjadi lemak,” tegasnya.

Baca juga:  Panas! Samanhudi Gugat Kapolda Jatim Pra Peradilan Usai Ditetapkan Tersangka

Ia juga menekankan pentingnya pola asuh yang tepat dari orang tua. Anak yang tampak gemuk, lucu, dan lahap makan bukan berarti sehat.

“Obesitas pada balita tidak boleh dianggap sepele. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa memicu gangguan fungsi organ karena organ tubuh dipaksa bekerja lebih keras sebelum berkembang sempurna,” pungkasnya. (HEV/YUN)

Iklan